.quickedit{ display:none; }

Ini Adalah Blognya Ani.com Blognya Ani.com Blognya Ani.com
Powered By Blogger
Tampilkan postingan dengan label Seni dan Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seni dan Budaya. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Juni 2010

Biografi Affandi

Affandi dilahirkan di Cirebon pada tahun 1907, putra dari R. Koesoema, seorang mantri ukur di pabrik gula di Ciledug, Cirebon. Dari segi pendidikan, ia termasuk seorang yang memiliki pendidikan formal yang cukup tinggi. Bagi orang-orang segenerasinya, memperoleh pendidikan HIS, MULO, dan selanjutnya tamat dari AMS, termasuk pendidikan yang hanya diperoleh oleh segelintir anak negeri. Namun, bakat seni lukisnya yang sangat kental mengalahkan disiplin ilmu lain dalam kehidupannya, dan memang telah menjadikan namanya tenar sama dengan tokoh atau pemuka bidang lainnya.
Pada umur 26 tahun, pada tahun 1933, Affandi menikah dengan Maryati, gadis kelahiran Bogor. Affandi dan Maryati dikaruniai seorang putri yang nantinya akan mewarisi bakat ayahnya sebagai pelukis, yaitu Kartika Affandi.

Sebelum mulai melukis, Affandi pernah menjadi guru dan pernah juga bekerja sebagai tukang sobek karcis dan pembuat gambar reklame bioskop di salah satu gedung bioskop di Bandung. Pekerjaan ini tidak lama digeluti karena Affandi lebih tertarik pada bidang seni lukis. Sekitar tahun 30-an, Affandi bergabung dalam kelompok Lima Bandung, yaitu kelompok lima pelukis Bandung. Mereka itu adalah Hendra Gunawan, Barli, Sudarso, dan Wahdi serta Affandi yang dipercaya menjabat sebagai pimpinan kelompok. Kelompok ini memiliki andil yang cukup besar dalam perkembangan seni rupa di Indonesia. Kelompok ini berbeda dengan Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi) pada tahun 1938, melainkan sebuah kelompok belajar bersama dan kerja sama saling membantu sesama pelukis.

Pada tahun 1943, Affandi mengadakan pameran tunggal pertamanya di Gedung Poetera Djakarta yang saat itu sedang berlangsung pendudukan tentara Jepang di Indonesia. Empat Serangkai--yang terdiri dari Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan Kyai Haji Mas Mansyur--memimpin Seksi Kebudayaan Poetera (Poesat Tenaga Rakyat) untuk ikut ambil bagian. Dalam Seksi Kebudayaan Poetera ini Affandi bertindak sebagai tenaga pelaksana dan S. Soedjojono sebagai penanggung jawab, yang langsung mengadakan hubungan dengan Bung Karno.

Ketika republik ini diproklamasikan 1945, banyak pelukis ambil bagian. Gerbong-gerbong kereta dan tembok-tembok ditulisi antara lain "Merdeka atau mati!". Kata-kata itu diambil dari penutup pidato Bung Karno, Lahirnya Pancasila, 1 Juni 1945. Saat itulah, Affandi mendapat tugas membuat poster. Poster itu idenya dari Bung Karno, gambar orang yang dirantai tapi rantai itu sudah putus. Yang dijadikan model adalah pelukis Dullah. Lalu kata-kata apa yang harus ditulis di poster itu? Kebetulan muncul penyair Chairil Anwar. Soedjojono menanyakan kepada Chairil, maka dengan enteng Chairil ngomong: "Bung, ayo Bung!" Dan selesailah poster bersejarah itu. Sekelompok pelukis siang-malam memperbanyaknya dan dikirim ke daerah-daerah. Dari manakah Chairil memungut kata-kata itu? Ternyata kata-kata itu biasa diucapkan pelacur-pelacur di Jakarta yang menawarkan dagangannya pada zaman itu.

Bakat melukis yang menonjol pada diri Affandi pernah menorehkan cerita menarik dalam kehidupannya. Suatu saat, dia pernah mendapat beasiswa untuk kuliah melukis di Santiniketan, India, suatu akademi yang didirikan oleh Rabindranath Tagore. Ketika telah tiba di India, dia ditolak dengan alasan bahwa dia dipandang sudah tidak memerlukan pendidikan melukis lagi. Akhirnya biaya beasiswa yang telah diterimanya digunakan untuk mengadakan pameran keliling negeri India.

Sepulang dari India, Eropa, pada tahun lima puluhan, Affandi dicalonkan oleh PKI untuk mewakili orang-orang tak berpartai dalam pemilihan Konstituante. Dan terpilihlah dia, seperti Prof. Ir. Saloekoe Poerbodiningrat dsb, untuk mewakili orang-orang tak berpartai. Dalam sidang konstituante, menurut Basuki Resobowo yang teman pelukis juga, biasanya katanya Affandi cuma diam, kadang-kadang tidur. Tapi ketika sidang komisi, Affandi angkat bicara. Dia masuk komisi Perikemanusiaan (mungkin sekarang HAM) yang dipimpin Wikana, teman dekat Affandi juga sejak sebelum revolusi.
Lalu apa topik yang diangkat Affandi? "Kita bicara tentang perikemanusiaan, lalu bagaimana tentang perikebinatangan?" demikianlah dia memulai orasinya. Tentu saja yang mendengar semua tertawa ger-geran. Affandi bukan orang humanis biasa. Pelukis yang suka pakai sarung, juga ketika dipanggil ke istana semasa Suharto masih berkuasa dulu, intuisinya sangat tajam. Meskipun hidup di zaman teknologi yang sering diidentikkan zaman modern itu, dia masih sangat dekat dengan fauna, flora dan alam semesta ini. Ketika Affandi mempersoalkan 'Perikebinatangan' tahun 1955, kesadaran masyarakat terhadap lingkungan hidup masih sangat rendah.

Affandi juga termasuk pimpinan pusat Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), organisasi kebudayaan terbesar yang dibubarkan oleh rezim Suharto. Dia bagian seni rupa Lembaga Seni Rupa) bersama Basuki Resobowo, Henk Ngantung, dan sebagainya.
Pada tahun enampuluhan, gerakan anti imperialis AS sedang mengagresi Vietnam cukup gencar. Juga anti kebudayaan AS yang disebut sebagai 'kebudayaan imperialis'. Film-film Amerika, diboikot di negeri ini. Waktu itu Affandi mendapat undangan untuk pameran di gedung USIS Jakarta. Dan Affandi pun, pameran di sana.

Ketika sekelompok pelukis Lekra berkumpul, ada yang mempersoalkan. Mengapa Affandi yang pimpinan Lekra kok pameran di tempat perwakilan agresor itu. Menanggapi persoalan ini, ada yang nyeletuk: "Pak Affandi memang pimpinan Lekra, tapi dia tak bisa membedakan antara Lekra dengan Lepra!" kata teman itu dengan kalem. Karuan saja semua tertawa.

Meski sudah melanglangbuana ke berbagai negara, Affandi dikenal sebagai sosok yang sederhana dan suka merendah. Pelukis yang kesukaannya makan nasi dengan tempe bakar ini mempunyai idola yang terbilang tak lazim. Orang-orang lain bila memilih wayang untuk idola, biasanya memilih yang bagus, ganteng, gagah, bijak, seperti; Arjuna, Gatutkaca, Bima atau Werkudara, Kresna.

Namun, Affandi memilih Sokasrana yang wajahnya jelek namun sangat sakti. Tokoh wayang itu menurutnya merupakan perwakilan dari dirinya yang jauh dari wajah yang tampan. Meskipun begitu, Departemen Pariwisata Pos dan Telekomunikasi (Deparpostel) mengabadikan wajahnya dengan menerbitkan prangko baru seri tokoh seni/artis Indonesia. Menurut Helfy Dirix (cucu tertua Affandi) gambar yang digunakan untuk perangko itu adalah lukisan self-portrait Affandi tahun 1974, saat Affandi masih begitu getol dan produktif melukis di museum sekaligus kediamannya di tepi Kali Gajahwong Yogyakarta.

Lukisan Mona Lisa

Mona Lisa, atau La Gioconda (La Joconde), adalah lukisan minyak di atas kayu poplar yang dibuat oleh Leonardo da Vinci pada abad ke-16. Lukisan ini sering dianggap sebagai salah satu lukisan paling terkenal di dunia dan hanya sedikit karya seni lain yang menjadi pusat perhatian, studi, mitologi, dan parodi. Lukisan ini dimiliki oleh pemerintah Perancis dan dipamerkan di Musée du Louvre di Paris.
Lukisan setengah badan ini menggambarkan lukisan wanita yang tatapannya menuju pengunjung dengan ekspresi yang sering dideskripsikan sebagai enigmatik atau misterius.

Nama atau judul lukisan Mona Lisa berasal dari biografi Giorgio Vasari tentang Leonardo da Vinci, yang terbit 31 tahun setelah ia meninggal dunia. Di dalam buku ini disebutkan bahwa wanita dalam lukisan ini adalah Lisa Gherardini, istri seorang pengusaha Firenze yang kaya bernama Francesco del Giocondo. Mona dalam bahasa Italia adalah singkatan untuk madonna yang artinya adalah "nyonyaku". Sehingga judul lukisan artinya adalah Nyonya Lisa. Dalam bahasa Italia biasanya judul lukisan ditulis sebagai Monna Lisa (dengan n ganda).

Lalu La Gioconda adalah bentuk feminin dari Giocondo. Kata giocondo dalam bahasa Italia artinya adalah "riang" dan la gioconda artinya adalah "wanita riang". Berkat senyum Mona Lisa yang misterius ini, frasa ini memiliki makna ganda. Begitu pula terjemahannya dalam bahasa Perancis; La Joconde.
Nama Mona Lisa dan La Gioconda atau La Joconde menjadi judul lukisan ini yang diterima secara luas semenjak abad ke-19. Sebelumnya lukisan ini disebut dengan berbagai nama seperti "Wanita dari Firenze" atau "Seorang wanita bangsawan dengan kerudung tipis".

Tionghoa

Marga Tionghoa merupakan marga yang digunakan orang Tionghoa. Marga (Hanzi: 姓氏, hanyu pinyin: xingshi) biasanya berupa satu karakter Han (Hanzi) yang diletakkan di depan nama seseorang. Ada pula marga yang terdiri dari 2 atau bahkan 3 sampai 9 karakter – marga seperti ini disebut marga ganda (Hanzi: 復姓, hanyu pinyin: fuxing). Marga Tionghoa juga diadopsi oleh suku-suku minoritas yang sekarang tergabung dalam entitas Tionghoa. Marga dalam suku-suku minoritas ini biasanya berupa penerjemahan pelafalan dari bahasa suku-suku minoritas tadi ke dalam Hanzi. Penggunaan marga di dalam kebudayaan Tionghoa telah mempunyai sejarah selama 5.000 tahun lebih.

Sejarah marga di dalam kebudayaan Tionghoa bermula dari 5.000 sampai 8.000 tahun yang lalu sewaktu masyarakat Tionghoa masih bersifat matrilineal. Pada masa itu, marga diwariskan dari garis ibu, itu yang menyebabkan marga-marga pertama dalam kebudayaan Tionghoa banyak yang mempunyai radikal perempuan (女).
Dua karakter xing (姓) dan shi (氏) yang membentuk arti marga sebenarnya berbeda dalam penggunaanya. Seiring bertambah kompleksnya struktur sosial masyarakat Tionghoa, xing merujuk kepada marga dan shi merujuk kepada klan.
Bila xing muncul pada masa 8.000 tahun yang lalu, maka shi baru muncul pada masa pemerintahan Huangdi (Hanzi: 黃帝, bahasa Inggris: Yellow Emperor). Klan (shi) ini sedikit berbeda dengan marga (xing), bertambahnya jumlah penduduk yang mempunyai marga yang sama kemudian menjadikan beberapa keluarga yang sama marga menginginkan adanya pembedaan garis keturunan lagi. Dari sinilah muncul pembedaan klan dalam marga yang sama. Jadi, shi adalah satu marga kecil dalam marga. Dalam satu marga dibagi lagi atas beberapa klan menurut garis keturunan yang berbeda.

Menurut catatan sejarah, jumlah keseluruhan marga Tionghoa sekitar 12.000 buah marga. Marga dengan karakter tunggal mencapai 5.000 buah, marga ganda mencapai 4.000 buah dan sisanya adalah marga antara 3 karakter sampai 9 karakter.
Namun marga yang masih digunakan sampai sekarang hanya berkisar antara 3.000 lebih marga. Marga tunggal mencapai 2.900 buah sedangkan marga ganda hanya 100 marga. Marga dengan 3 karakter ke atas sangat jarang ditemui. Selain itu banyak pula marga yang telah punah.

Komposisi marga di masyarakat Tionghoa sangat tidak merata. Sekitar 100 marga yang paling banyak diketemukan mencakup 87% dari jumlah penduduk Cina.

Di zaman dulu, marga-marga tertentu mempunyai tingkatan lebih tinggi daripada marga-marga lainnya. Pandangan ini terutama muncul dan memasyarakat pada zaman Dinasti Jin dan sesudahnya. Ini dikarenakan sistem Men Di yang serupa dengan sistem kasta di India. Pengelompokan tingkatan marga ini terutama juga dikarenakan oleh sistem feodalisme yang mengakar zaman dulu di Cina. Ini dapat dilihat di zaman Dinasti Song misalnya, Bai Jia Xing yang dilafalkan pada masa tersebut menempatkan marga Zhao yang merupakan marga kaisar menjadi marga pertama.
Di masa sekarang tidak ada pengelompokan tingkatan marga lagi di dalam kemargaan Tionghoa. Bila beberapa marga didaftarkan maka biasanya diadakan pengurutan sesuai dengan jumlah goresan karakter marga tersebut.

Kamis, 27 Mei 2010

Sejarah Bahasa Esperanto


Esperanto adalah bahasa artifisial yang diciptakan oleh Ludovich Zamenhoff, seorang Polandia. Nama "Esperanto" adalah nama samaran dari L.L Zamenhof sendiri ketika ia menerbitkan tentang bahasanya pada tahun 1887. Tujuan utama Zamenhof adalah untuk membuat bahasa netral yang mudah dipelajari dan digunakan sebagai bahasa perantara oleh berbagai orang yang memiliki bahasa ibu yang bermacam-macam.

L.L. Zamenhoff dilahirkan di Białystok, Polandia (pada waktu itu masih bagian dari Rusia). Ia tumbuh berkembang di tengah-tengah komunitas yang poliglot, yang membuatnya berpikir bahwa diperlukan sebuah bahasa pemersatu yang akan mengakhiri permasalahan-permasalahan yang ditimbulkan akibat adanya berbagai macam bahasa yang seringkali menimbulkan konflik dan kerisuhan. Ia menolak bahasa-bahasa besar yang ada pada saat itu (Perancis, Jerman, Inggris, Rusia) karena mereka susah dipelajari dan akan menempatkan pengguna bahasa tersebut pada posisi yang lebih diuntungkan daripada orang lain; ia juga menolak dua bahasa "mati" yang mana ia kuasai, Latin dan Yunani, karena mereka lebih susah dipelajari dan dikuasai daripada bahasa-bahasa yang lain. Ia mulai mengembangkan bahasa yang ia rencanakan sendiri, yang pada akhirnya ia sebut dengan sebutan "Lingvo Internacia", pada waktu ia mulai masuk SMA, sampai puncaknya ketika ia menerbitkan buku pengantar bahasa buatannya (untuk pembaca berbahasa Rusia). Pada waktu yang hampir bersamaan, ia juga menikah dan memulai karir kedokterannya.

Esperanto dikembangkan pada 1877-1885 oleh L.L. Zamenhoff. Setelah sekitar sepuluh tahun perkembangannya, pada 26 Juli 1887 dia menerbitkan Unua Libro, tata bahasa pertama dari Esperanto, di Rusia, diikuti oleh versi dari beberapa bahasa lain dari tahun 1887 sampai 1889. Jumlah penuturnya berkembang pada dekade dekade selanjutnya, pada awalnya sebagian besar hanya di Kerajaan Rusia dan Eropa Timur, lalu merambah ke Eropa Barat dan lalu ke Amerika. Pada dekade dekade awal penutur Esperanto biasanya berhubungan satu sama lain melalui majalah dan korespondensi. Pada tahun 1905 Kongress Esperanto Dunia diadakan di Boulogne-sur-Mer, Perancis sejak itu kongress dunia diadakan setiap tahun kecuali ketika perang dunia.
Kata 'Esperanto' sendiri berarti "seseorang yang berharap" di dalam bahasa Esperanto. Kata tersebut digunakan oleh Zamenhof sebagai pseudonim buku pertamanya. Lambat laun istilah tersebut digunakan untuk menyebut bahasa itu sendiri.

Secara linguistik, bahasa Esperanto tidak lebih baik (superior) atau kalah baik (inferior) daripada bahasa-bahasa lain, buatan maupun tidak. Beberapa kelebihan yang dimiliki bahasa Esperanto yang tidak dimiliki bahasa lain antara lain:
Bahasa netral: karena bahasa tersebut bukan merupakan bahasa ibu siapapun di dunia ini, maka bahasa tersebut dianggap milik yang setara bagi semua orang (meskipun bahasa Esperanto memberikan keuntungan lebih bagi orang-orang yang menggunakan alfabet Latin daripada misalnya pengguna bahasa Tionghoa atau bahasa Arab).
Bahasa yang relatif mudah dipelajari: dari pengakuan-pengakuan para pengguna bahasa ini dan juga dari bukti-bukti anekdotal, bahasa Esperanto sekitar lima kali lebih mudah dipelajari oleh pengguna bahasa Inggris daripada bahasa Spanyol, sepuluh kali lebih mudah daripada bahasa Rusia, dan "jauh lebih mudah" daripada bahasa Tionghoa, Jepang, atau bahasa Arab.
Segala klaim bahwa bahasa Esperanto lebih mudah dipelajari sekali lagi tidaklah mungkin dibuktikan dengan pasti, karena sekali lagi, tidak ada bukti yang dapat digunakan untuk hal tersebut.
Fitur-fitur yang dimiliki bahasa Esperanto:
Sistem pengejaan yang sama: berlainan dengan bahasa Tionghoa yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mengingat-ingat hubungan antara suatu karakter dengan pengucapannya, atau bahasa Inggris yang memiliki banyak sekali inkonsistensi dalam pengejaannya, Esperanto, sama seperti bahasa Indonesia, memiliki sistem satu-huruf-satu-suara, mudah sekali untuk mempelajari sistem pengejaan bahasa ini.
Tata bahasa yang sama dan tanpa perkecualian: Hanya dengan menguasai enam belas peraturan tata-bahasa yang singkat seseorang sudah dapat membuat kalimat di dalam bahasa Esperanto yang benar, berguna, dan bermanfaat.
Sistem penciptaan kata dari kata lain yang mudah dipelajari: hanya dengan menguasai sekitar 500 kosakata (kata dasar, partikel, afiks) seseorang dapat dengan mudah mengembangkan kosakatanya hingga kosakata-kosakata teknis. Meskipun Esperanto secara umum memiliki perbendaharaan kata dasar unik yang cukup besar (sekitar 9000), banyak di antaranya yang cuma merupakan sinonim dari kata-kata yang dapat dirangkai dari kelima ratus kata dasar yang tersebut di atas, dan seringkali dianjurkan (dan biasanya dianggap lebih elegan) untuk merangkai kata-kata sendiri daripada menggunakan kata yang sudah ada.

Jumlah pengguna bahasa Esperanto sulit untuk dihitung, karena sensus secara menyeluruh di dunia sulit untuk dilakukan. Perkiraan yang paling dekat yaitu sekitar dua juta pengguna. Wikipedia berbahasa Esperanto [eo.wikipedia.org] memiliki artikel sebanyak 86.846 sekitar tahun 2001, jauh lebih banyak daripada Wikipedia berbahasa Indonesia yang pada tahun 2007 "hanya" memiliki 64.514 artikel. Jumlah dua juta pengguna bahasa ini dapat ditarik dari banyaknya penjualan teks atau karya literatur yang menggunakan bahasa tersebut, banyaknya jumlah tulisan di internet, dan lain sebagainya. Jumlah dari sumber-sumber lain berkisar antara sepuluh ribu (oleh lawan-lawan Esperanto) hingga tiga puluh atau empat puluh juta (oleh pengguna antusias Esperanto).
Pada tahun 1927 ketika populasi bumi sekitar dua miliar orang, Dr. Johannes Dietterle dari Reich Institute fur Esperanto di Leipzig menyelenggarakan survei dimana ia memperkirakan jumlah pengguna Esperanto ada sekitar 128.000 orang. Saat ini populasi bumi sekitar enam miliar orang, dan perkiraan jumlah pengguna Esperanto ada sekitar dua juta orang. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa pengguna Esperanto meningkat sangat pesat dalam kurun waktu 80 tahun.

Pengguna sejak lahir
Dalam seratus dua puluh tahun sejarah Esperanto banyak penggunanya yang menjadi sangat tertarik oleh bahasa ini sehingga mengajarkannya kepada anak mereka yang baru lahir, dengan demikian bahasa ini menjadi bahasa ibu anak tersebut. Faktor lain yang berperan penting adalah banyaknya pernikahan antar pasangan dengan bahasa yang berbeda bahasa dan hanya bahasa Esperanto yang mereka berdua sama-sama kuasai. Sebagai akibatnya saat ini ada beberapa ratus hingga beberapa ribu individual di seluruh dunia yang menyebut bahasa Esperanto sebagai bahasa ibu mereka. Saat ini paling tidak ada satu konferensi tahunan, satu majalah internasional, dan satu milis internet yang dikhususkan untuk individual-individual seperti mereka. Namun demikian, sejauh yang diketahui, tidak ada pengguna monolingual bahasa Esperanto setelah usia tiga atau empat tahun - dengan kata lain, setelah melampaui usia dimana sosialisasi di luar keluarga inti mereka menjadi hal yang penting. Selain itu, karena jumlah mereka sangat sedikit dan mereka secara umum tidak seantusias orangtua mereka, pengaruh yang mereka berikan untuk perkembangan dan pemakaian bahasa ini sangat sedikit pula.

Pengguna menurut asalnya
Kebanyakan pengguna bahasa Esperanto berasal dari Eropa Timur dan Tengah, terutama dari bekas negara-negara Uni Soviet, termasuk negara-negara di kawasan Baltik; dan di Asia Timur, terutama Tiongkok. Bahasa ini juga banyak dikenal di kawasan Amerika Selatan dan Asia Selatan, dan tidak banyak di kenal di kawasan Amerika Utara, Afrika, dan dunia Muslim (Arab dan negara-negara dengan mayoritas penduduk Islam lainnya).
Secara resmi tidak ada negara yang mengakui Esperanto sebagai bahasa resmi. Beberapa negara pada satu waktu, ikut mendanai promosi penggunaan bahasa Esperanto untuk kepentingan mereka sendiri (dalam 25 tahun terakhir termasuk Hungaria, Vietnam, dan Tiongkok) dan bahkan membiayai organisasi nasional Esperanto untuk alasan yang sama, tapi sejauh ini tidak ada yang mendukung bahasa Esperanto sebagai bahasa internasional atau mendukung pengajaran bahasa ini secara luas di negara mereka.

Beberapa negara pernah menolak penggunaan bahasa ini:

Pemerintahan Tsar di Rusia memban semua majalah dan buku dalam bahasa Esperanto dari tahun 1895 hingga 1905.

Uni Soviet memberi batasan yang berat akan penggunaan Esperanto oleh masyarakat mulai tahun 1930 hingga puncaknya pada tahun 1938 ketika semua pengguna tercatat bahasa ini di USSR dikumpulkan dan dikirim ke Gulag atau ditembak. Esperanto secara resmi dilarang di Uni Soviet hingga tahun 1956, tidak direkomendasikan hingga tahun 1979, dan dibawah pengawasan ketat pemerintah hingga akhir 1980-an.

Pemerintahan Perancis pada awal 1920-an melarang pengajaran bahasa Esperanto di sekolah-sekolah di Perancis.
Adolf Hitler secara khusus menyebut Esperanto sebagai alat dominasi kaum Yahudi pada sebuah pidato di Munich tahun 1922, dan mengembangkan ide ini dalam bukunya, Mein Kampf. Organisasi-organisasi Esperanto dilarang di Jerman pada pertengahan tahun 1930-an, dan pengguna bahasa Esperanto di daerah-daerah yang diduduki selama Perang Dunia II biasanya tidak dianjurkan untuk digunakan (lebih umum di kawasan Barat) atau dihabisi (lebih umum di kawasan Timur).

Sebelum dan selama masa perang, pemerintah militer Jepang tidak menganjurkan, menyiksa, dan kadang-kadang membunuh pemakai bahasa Esperanto dengan dasar bahwa "pemakai bahasa Esperanto seperti buah semangka - hijau di luarnya [warna yang diasosiasikan dengan Esperanto] tapi merah [Komunis] di dalamnya."

Pemerintahan Komunis Tiongkok bersikap ambigu terhadap Esperanto. Pembelajaran bahasa ini dengan pengawasan pemerintah tidak hanya dibolehkan namun juga dianjurkan (dan bahkan diwajibkan). Belajar bahasa Esperanto diluar pengawasan pemerintah, di pihak lain, sangat tidak dianjurkan, bahkan pada zaman Revolusi Kebudayaan dapat membawa seseorang ke penjara atau yang lebih buruk lagi.

Bahasa Esperanto dilarang di Romania di bawah pemerintahan rejim Ceauşescu, dan buku-buku serta majalah Esperanto dilarang untuk diedarkan di negara tersebut (walaupun secara rutin diselundupkan masuk oleh pengguna Esperanto dari Bulgaria, Hungaria, dan Yugoslavia).

Para Mullah di Iran dengan cepat mendukung penggunaan bahasa Esperanto setelah tahun 1979 karena Esperanto "bukan" merupakan bahasa Barat. Tapi pada 1981, ketika ditemukan bahwa penganut agama Baha'i juga tertarik dengan bahasa ini, tiba-tiba warga Iran tidak mau menggunakan bahasa ini karena takut diasosiasikan dengan ajaran tersebut.

Seorang pengguna Esperanto di Irak pada masa Saddam Hussein langsung dipenjarakan dan dideportasikan tidak lama setelah ia berusaha mengajarkan bahasa tersebut kepada orang lain.

Dua pengguna Esperanto di Swedia dipukuli hingga luka para oleh polisi-polisi Tanzania ketika berusaha mengajari para pengungsi bahasa Esperanto. (Ini tidak mencerminkan kebijakan resmi negara Tanzania)
Penggunaan Esperanto di Spanyol di bawah pemerintahan Franco sangat tidak ditoleransi, karena kebanyakan pemakainya merupakan anggota sayap kiri dan karena banyak pemakainya yang bergabung dengan kubu Republik pada masa Perang Saudara.

Bahasa Esperanto diban di Portugis di bawah pemerintahan diktator Salazar dan keadaan pengguna bahasa tersebut lebih buruk daripada yang di Spanyol.
Contoh yang terkenal: sebuah buku yang terkenal yang menulis tentang masalah ini: La danĝera lingvo (Bahasa yang Berbahaya) yang ditulis oleh Ulrich Lins; judul buku ini berasal dari sebuah komentar yang dikemukakan oleh Josef Stalin.

Melville J. Herskovits


Melville Jean Herskovits (10 September 1895 - 25 Februari 1963) adalah nama seorang antropolog Amerika Serikat yang lahir di Bellefontaine, Ohio. Ia adalah penulis buku kontroversial The Myth of the Negro Past yang membahas tentang pengaruh kebudayaan Afrika dalam kehidupan kulit hitam Amerika. Ia juga turut berperan membentuk konsep relativitas kebudayaan melalui bukunya yang berjudul Man and His Works.
Ia mendapatkan gelar PhD pada bidang studi Antropologi dari Colombia University di New York dengan bimbingan dari seorang antropolog Jerman-Amerika terkenal Franz Boas.
Herskovits wafat pada usia 68 tahun di Evanston. Pada tahun 1954, The Melville J. Herskovits Library of African Studies, sebuah perpustakaan yang banyak memiliki koleksi buku tentang Afrika, didirikan di Northwestern University untuk mengenang jasa-jasanya.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Melville_J._Herskovits

Sabtu, 22 Mei 2010

Gasing


Siapa yang tidak mengenal mainan yang satu ini, berbentuk bulat dengan bagian bawah yang lancip dan dimainkan dengan cara di putar dengan tali, Apa lagi kalau bukan Gasing. Seperti yang kita ketahui Gasing adalah mainan yang bisa berputar pada poros dan berkesetimbangan pada suatu titik. Gasing merupakan mainan tertua yang ditemukan di berbagai situs arkeologi dan masih bisa dikenali. Selain merupakan mainan anak-anak dan orang dewasa, gasing juga digunakan untuk berjudi dan ramalan nasib.

Sebagian besar gasing dibuat dari kayu, walaupun jaman sekarang sering dibuat dari plastik, atau bahan-bahan lain. Kayu diukir dan dibentuk hingga menjadi bagian badan gasing. Tali gasing umumnya dibuat dari nilon, sedangkan tali gasing tradisional dibuat dari kulit pohon. Panjang tali gasing berbeda-beda bergantung pada panjang lengan orang yang memainkan.

Gerakan gasing berdasarkan efek giroskopik. Gasing biasanya berputar terhuyung-huyung untuk beberapa saat hingga interaksi bagian kaki (paksi) dengan permukaan tanah membuatnya tegak. Setelah gasing berputar tegak untuk sementara waktu, momentum sudut dan efek giroskopik berkurang sedikit demi sedikit hingga akhirnya bagian badan terjatuh secara kasar ke permukaan tanah.

Menarik bukan?? kalau ingat gasing jadi kembali ke masa kanak-kanak.. hhe

Gasing di indonesia pasti berbeda dengan gasing di berbagai negara. Tapi yang saya ketahui gasing merupakan salah satu permainan tradisional Nusantara, walaupun sejarah penyebarannya belum diketahui secara pasti.

Di wilayah Pulau Tujuh (Natuna), Kepulauan Riau, permainan gasing telah ada jauh sebelum penjajahan Belanda. Sedangkan di Sulawesi Utara, gasing mulai dikenal sejak 1930-an. Permainan ini dilakukan oleh anak-anak dan orang dewasa. Biasanya, dilakukan di pekarangan rumah yang kondisi tanahnya keras dan datar. Permainan gasing dapat dilakukan secara perorangan ataupun beregu dengan jumlah pemain yang bervariasi, menurut kebiasaan di daerah masing-masing. Hingga kini, gasing masih sangat populer dilakukan di sejumlah daerah di Indonesia. Bahkan warga di kepulauan Rian rutin menyelenggarakan kompetisi. Sementara di Demak,biasanya gasing dimainkan saat pergantian musim hujan ke musim kemarau. Masyarakat bengkulu ramai-ramai memainkan gasing saat perayaan Tahun Baru Islam, 1 Muharram.

Nama dari gasing dari berbagai daerah pun berbeda-beda, kalau di Jawa Barat dan DKI Jakarta menyebutnya gangsing atau panggal. Masyarakat Lampung menamaninya pukang, warga Kalimantan Timur menyebutnya begasing, sedangkan di Maluku disebut Apiong dan di Nusatenggara Barat dinamai Maggasing. Hanya masyarakat Jambi, Bengkulu, Sumatera Barat, Tanjungpinang dan Kepulauan Riau yang menyebut gasing.

Nama maggasing atau aggasing juga dikenal masyarakat bugis di Sulawesi Selatan. Sedangkan masyarakat Bolaang Mangondow di daerah Sulawesi Utara mengenal gasing dengan nama Paki. Orang jawa timur menyebut gasing sebagai kekehan.Sedangkan di Yogyakarta, gasing disebut dengan dua nana berbeda. Jika terbuat dari bambu disebut gangsingan, dan jika terbuat dari kayu dinamai pathon.

Bukan hanya nama yang berbeda-beda bentuk di berbagai daerah juga berbed-beda, misalnya pada di Ambon (apiong) memiliki kepala dan leher. Namun umumnya, gasing di Jakarta dan Jawa Barat hanya memiliki bagian kepala dan paksi yang tampak jelas, terbuat dari paku atau logam. Sementara paksi gasing natuna, tidak nampak.

Cara membedakan gasing yaitu gasing adu bunyi, adu putar dan adu pukul. Cara memainkan gasing, tidaklah sulit. Yang penting, pemain gasing tidak boleh ragu-ragu saat melempar gasing ke tanah. Gasing di pegang di tangan kiri, sedangkan tangan kanan memegang tali. Lilitkan tali pada gasing, mulai dari bagian paksi sampai bagian badan gasing. lilit kuat sberputar.